Dari Baduy Hingga Shirakawa

Sepanjang tiga bulan di awal tahun 2016, saya bolak-balik ke perkampungan Baduy di Deda Kanekes, Rangkasbitung, Banten; untuk sebuah proyek multi-media berjudul “Baduy Kembali”. Sebuah proyek yang berasal dari rasa keprihatinan saya tentang masyarakat Baduy yang sudah mulai berubah karena masyarakatnya meninggalkan pikukuh atau pantangan yang harusnya dijaga oleh masyarakat Baduy selama hayat di kandung badan.

Ya, ya… banyak di antara warga Baduy, terutama masyarakat Baduy luar, yang lebih mengejar keduniawian katimbang menjaga kesederhanaan sebagai jalan hidup seperti yang diajarkan oleh moyang mereka. Namun, di antara kesedihan itu, ada juga rasa optimistis pada mereka. Setidaknya, hingga detik ini, masyarakat Baduy masih bisa menjaga kempung mereka dari kontaminasi asap knalpot. Itulah sebabnya, udara segar masih bisa diirup di Desa Kanekes, tempat orang-orang Baduy bermukim. Pun demikian dengan bentuk rumah mereka yang masih bertahan dalam kesederhanaan.

Lantas pada akhir November 2016, saya berkesempatan mengunjungi sebuah perkampungan kuno di Jepang bernama Shirakawa. Entahlah, begitu melihat perkampungan ini, ingatan saya atas perkampungan Baduy segera melintas di benak. Barangkali karena kesederhanaan serta usia tua pada rumah-rumah di Shirakawa itulah yang membangkitkan kenangan saya atas perkampungan Baduy terbit.

Tentu, pada keduanya memiliki perbedaan yang signifikan. Shirakawa tertata dengan asri, lengkap dengan panorama alam yang indah, serta tata ruang yang ditata apik. Sementara di perkampungan Baduy, kesan kumuh langsung menyergap pandang mata kita. Tapi keduanya memiliki daya tarik yang sama kuat. Shirakawa dengan pesona alam dan tata ruang yang artistik, sementara perkampungan Baduy dengan kesederhanaan bangunan dan kebersahajaan masyarakatnya, serta masih terjaga dari polusi knalpot hingga kini.

Persamaan pada keduanya, adalah spirit purba hunian manusia yang lebih bersahabat dengan alam yang nampak pada atap yang terbuat dari sejenis rumputan yang bisa menstabilkan suhu ruangan.

Ya, ya… mengenangkan keduanya adalah mengenangkan romantisme hunian manusia tradisional yang tak lekang oleh zaman. Sebuah hunian yang senantiasa dirindukan oleh manusia modern yang kesepian justru di tengah keramaian.

Tempo hari, kawan saya Yoko Takebe mengabarkan, saat ini Shirakawa sedang ramai dikunjungi oleh wisatawan. Salju yang turun di sana, adalah lukisan alam yang melengkapi eksotika Shirakawa. Pada 16 Maret ini, prakiraan cuaca di desa ini maksimal 6 derajat dan suhu minimal -1 derajat celcius. Itu artinya, salju masih turun di sana. Warna putih mendominasi perkampungan ini. Salju menempel pada atap rumah-rumah kuno di Shirakawa, juga pada pepohonan.

Shirakawa adalah nama sebuah desa yang terletak di Prefektur Gifu, Jepang. Desa ini termasuk salah satu wilayah yang paling banyak diguyur hujan salju setiap tahunnya. Pemandangan Shirakawa-go bila dikunjungi saat musim dingin sangat menakjubkan dan indah sekali. Tapi, harus siap-siap dengan jaket tebal dan persiapkan fisik juga untuk menerobos salju yang tebal.

O ya, rumah-rumah tradisional yang disebut gassho-zukuri yang jumlahnya mencapai 114 buah dibuat dengan keahlian tangan penduduk setempat. Ciri khas gassho-zukuri adalah bentuk atap yang meruncing, dan ukurannya dibuat sangat besar dengan tiga hingga empat tingkat di bawah atap rumah dengan derajat kemiringan yang tinggi sehingga bentuknya menyerupai dua telapak tangan yang sedang dikatupkan.

Tujuannya untuk manahan curah salju yang cukup tebal di musim dingin agar atap tidak cepat rusak. Proses penggantian atap (yang biasanya dilakukan setiap 20 atau 30 tahun sekali) juga menjadi tradisi tersendiri yang disebut “yui”. Pemilik rumah tidak bekerja sendiri untuk mengganti atap, karena setiap ada penggantian atap, seluruh penduduk desa ikut berpartisipasi. Proses penggantian atap ini menjadi hal yang diminati wisatawan yang tidak hanya menonton, tetapi juga ikut membantu proses tersebut. Bagi warga Shirakawa-go, tradisi yui menunjukkan kebersamaan dan gotong royong yang menjadi salah satu alasan desa itu masih bertahan hingga kini.

Rumah-rumah yang ada di sana ada usianya konon sudah 100 tahun lebih, bahkan ada juga yang sudah mencapai lebih dari 4 abad. Itulah sebabnya, kawasan Shirakawa-go dijadikan kawasan konservasi dan sudah diakui oleh UNESCO World Heritage Site, sehingga berbagai bangunan yang ada di Shirakawa-go memang sengaja dirawat dan dipertahankan keasliannya. Rumah-rumah tersebut juga bukan hanya dijadikan sebagai pajangan, melainkan betul-betul dihuni, lho.

Rumah-rumah yang ada di Shirakawa-go, beberapa di antaranya beralih fungsi menjadi minshuku atau penginapan tradisional yang dikelola oleh keluarga. Menginap di minshuku menjadi salah satu aktivitas wisata favorit selama berada di sana.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2017/03/16/204407727/dari.baduy.hingga.shirakawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *