Jangan Nekat Coret Terumbu Karang! Ini Dampaknya…

JAKARTA, KOMPAS.com – Coret-coret di koral perairan Raja Ampat, Papua Barat, bisa berbuntut panjang untuk kelangsungan sektor pariwisata bahari. Sebelumnya, kejadian serupa juga terjadi di perairan Nusa Penida, Bali.

(Baca juga: Ketika Vandalisme Terpahat di Koral Raja Ampat)

“Kejadian grafiti yang terjadi di Nusa Penida maupun di Raja Ampat itu merupakan perilaku yang kurang bertanggung jawab dan berdampak langsung pada sektor pariwisata bahari dan pada ekosistem terumbu karang secara jangka panjang,” ungkap Dwi Aryo Tjiptohandono, Marine and Fisheries Campaign Coordinator WWF Indonesia, kepada KompasTravel, Jumat (3/2/2017).

Terumbu karang, lanjutnya, memerlukan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh. Sehingga kerusakan yang sengaja dilakukan, baik grafiti atau diinjak, tidak bisa pulih dalam waktu cepat. Aryo menjelaskan bahwa ikan membutuhkan terumbu karang sebagai tempat bertelur dan berlindung dari predator yang lebih besar.                        

FACEBOOK/STAY RAJA AMPAT Stay Raja Ampat adalah situs non-komersil dan nirlaba yang bertujuan untuk mendukung usaha komunitas Raja Ampat untuk membangun industri ekowisata.

“Di mana ada terumbu karang, pasti ada ikan, oleh karena itu kerusakan yang terjadi pada ekosistem terumbu karang akan mempengaruhi habitat perikanan karang,” ungkap Aryo.

Kerusakan terumbu karang, tutur Aryo, secara jangka pendek akan berdampak langsung pada pariwisata bahari. Oleh karena itu, lanjutnya, ekosistem terumbu karang dan satwa yang hidup di sekitarnya menjadi tumpuan pariwisata bahari di Indonesia.

“Jadi pariwisata bahari yang bertumpu pada ekosistem laut yang sehat pastinya memberikan keuntungan bagi masyarakat lokal juga,” ungkapnya.

Ia menambahkan apabila habitat sudah mulai banyak tekanan, maka satwa yang bergantung pada ekosistem tersebut bisa stres dan bahkan pergi. “Yang paling dikhawatirkan itu adalah perilaku wisatawan dan pemandu wisata yg tidak memperhatikan kelestarian asset dari sumber penghidupannya,” kata Aryo.

Sebagai gambaran, menurut data dari Kementerian Pariwisata, Indonesia melalui Kementerian Pariwisata menargetkan target devisa sektor pariwisata sebesar 20 miliar dollar AS pada tahun 2019. Sebanyak 4 miliar dollar AS ditargetkan berasal dari wisata bahari.

Dari target tersebut, sebanyak 60 persen ditargetkan dari wisata pantai, 25 persen dari wisata bentang laut seperti cruise dan yacht. Sedangkan sebanyak 15 persen dari wisata bawah laut yaitu snorkeling dan diving.

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2017/02/06/201200527/jangan.nekat.coret.terumbu.karang.ini.dampaknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *