Menpar: E-Tourism Tidak Bisa Dihindari

BANDUNG, KOMPAS.com – Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, penggunaan teknologi informatika untuk memasarkan pariwisata Indonesia tidak akan bisa dihindari.

Dengan memanfaatkan teknologi informatika, Kementerian Pariwisata saat tengah mencanangkan penggunaan e-tourism di seluruh travel agent.

“Sekarang 70 persen wisatawan termasuk turis menggunakan digital. Saya dorong anggota Asita kesana (menggunakan IT) karena nanti mati kalau tidak menggunakan digital,” kata Arief Yahya kepada wartawan usai menghadiri Wisuda Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) NHI Bandung, Jalan Setiabudi, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (13/3/2017).

(BACA: Dalam Sehari Gili Trawangan Dikunjungi 2.600 Wisatawan)

Menurut Arief, wisatawan saat ini dipastikan berselancar di media sosial sebelum berwisata. Saat ini, 8 dari 10 penumpang internasional melakukan search, share dan booking lewat online.

“Rata-rata sumbangan online travel agent (OTA) terhadap tingkat hunian kamar di Kota Bandung sekitar 30 sampai 40 persen,” katanya.

E-tourism, lanjut Menpar, sudah tak bisa lagi dihindari semua pengusaha pariwisata. Pasalnya, internet saat ini sudah menjadi kebutuhan dasar manusia dalam mencari kemudahan. Selain itu, dengan sistem online bisa menekan biaya operasional.

(BACA: Ini Kalender Horas Samosir Fiesta 2017 untuk Menarik Wisatawan)

Bahkan, sambung Arief, untuk mengetahui pergerakan dan perpindahan wisatawan mancanegara maupun wisawatan domestik, Kementerian Pariwisata saat ini sudah menggunakan sistem online.

Ira Rachmawati Wisata hutan pinus di Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Jatim, cocok buat wisatawan yang suka selfie.

“E-tourism harus men-transform life style pariwisata ini. Karena telecommunication, transportation, tourism memang harus mengikuti teknologi,” ungkapnya.

Arief tidak memungkiri jika saat ini masih ada orang yang membeli paket wisata secara manual.

“Nanti tidak akan ada yang datang lagi ke travel agent secara manual. Pasar yang tadinya datang manual akan ganti dengan digital,” katanya.

E-tourism ini, tambah Arief, pada prinsipnya sama dengan travel agent manual yakni, mempertemukan antara wisatawan (buyer) dengan penjual (seller).

Sumber:

http://travel.kompas.com/read/2017/03/14/084200027/menpar.e-tourism.tidak.bisa.dihindari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *